Today is better

Wednesday, December 24, 2003

Taman di Pelupuk Matanya

Yaa ayya tuhannafsul muthma-innah. Irr ji'ii ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah.Fad khulii fi'ibaadi. Wad khuli jannatii". Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (Al Fajr: 27-30)

"Kutatap adik laki-lakiku Eri dengan kepiluan yang mengalir ke seluruh nadi darahku. Wajahnya semakin tirus, kurus tubuhnya menampakkan tulang yang tinggal berbalut kulit. Leukimia telah menggerogoti kegagahannya. Tapi bagiku dia masih tetap gagah. Masih tetap perkasa sekaligus lembut, setiap kuingat betapa SABAR ia mengajar baca tulis Al Quran pada sesama teman mahasiswanya, betapa SANTUN ia membimbing ibu-ibu pengusaha tempe ?plenyet? yang sama sekali buta bisnis untuk memahami lika-liku bisnis, betapa manis ia dengan SUKARELA dan IKHLAS MEMBANTU dan MENDAHULUKAN KEPENTINGAN KAWAN-KAWANNYA.

Sudah 47 hari ia terbaring di rumah sakit, dengan darah yang selalu di muntahkan dari mulutnya. Dan hari ini, dua puluh mahasiswa teman-teman Eri ikut terpekur di sini. Semua keluarga berkumpul. Hanya keheningan, kepiluan yang terasa. Tapi Eri seperti tidak merasakan keperihan kami, ia tidak pernah mengeluh. Keharuan selalu menyeruak ke segenap pori-poriku setiap kali kuingat kata-katanya, ketika seorang teman memintanya untuk sabar menghadapi ujian Allah ini, ? Ah, INI BUKAN UJIAN. INI KENIKMATAN DARI ALLAH. Dengan begini, saya kan jadi bisa MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAP-NYA."

Demi Allah, Eri memang seperti layaknya pemuda-pemuda sekarang, kadang ? nakal ? dengan selorohan-selorohannya, kadang ia juga takut mati. Tapi Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBACA AL QUR'AN DAN MENGAJARKANNYA, Eri TIDAK PERNAH LUPA MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN, Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBANTU ORANG MISKIN.

"Mbak?Mbak Lina?itu, itu?Masya Allah?ada taman indah sekali, Mbak! Ayo cepat difoto?ayo?keburu hilaang?? Rengekan Eri mengejutkanku. Aku terhenyak. Telunjuk Eri mengarah pada botol infus. Tapi ia berbicara tentang sebuah taman yang indah, taman yang mana? Taman mana sih Er?, itu kan botol infus?? bujukku perlahan.

Ah, Mbak Lina sih tidak percaya, ayo dong difoto?? ia terus merengek. Aku hanya terdiam. Seorang teman menyentuh bahuku lembut, mengisyaratkan untuk mengiyakan perkataan Eri? Kelihatannya sudah hampir waktunya? , Lin.? Bisiknya sambil menunjuk jemari kaki Eri yang mulai mengerucut, wajahnya mengerut dan tirus. Tanda-tanda sakratul maut.

Aku menggigit bibir kuat-kuat. Mataku memanas. Aku?aku tak kuat menahan tangis. Kugengam jemari Eri kuat-kuat. Ya Allah?aku ikhlas jika Engkau membawanya pergi sekarang?aku ikhlas! Bisikku diantara gemuruh tangis yang kucoba untuk menahannya.
Tiba-tiba? Eri muntah darah. Banyak. Setelah itu tubuhnya berangsur kelihatan bercahaya, terlihat sangat sehat dan segar. Berulang kali aku mengucap istighfar, takbir dan tahlil.

Mbak, aku merasa sehat. Aku pingin pergi? Ma? Mama? aku pingin pergi jauh. Mbak Lina minta sangu doooong?? Eri merajuk lagi. Aku tergagap. Refleks meraba kantong bajuku dan menyodorkan uang pada Eri. Spontan saja, Eri dengan sigap menerima uluran tanganku, dan menyimpan uang itu di sakunya. Ia bahkan sempat mengucapkan terimakasih padaku, sebelum memejamkan mata dengan ketenangan yang menakjubkan. Hidungnya teratur menghirup dan menghembuskan udara. Aku terhenyak. Ia hendak pergi jauh. Ia meminta bekal. Astaghfirullah?kenapa aku membekalinya uang?

Segera aku meraih Quran, kubacakan Yasin persis di sisi telinganya. Tuntas hingga ayat terakhir. Kudengar seruan takbir mendesis dari mulut Eri, persis ketika surat Yasin selesai kubacakan. Tubuh Eri dingin. Hidungnya tak lagi menghembus dan menghirup. Jantungnya berhenti berdegup.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji?uun, desis kami berbarengan.

Tiba-tiba bau yang sangat harum menyergap hidungku. Ma, bau wangi nggak?? Mama menggeleng sambil menyusut air mata. Papa?? tanyaku lagi. Papa menggeleng. Kutatap Eri yang memucat, bibirnya tampak mengulas senyum. Taman yang indah yang telah diperlihatkan kepadamu itukah yang berbau begitu semerbak, Eri sayang?? Tanyaku dalam diam.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA* Al-Hubb Fillah wa Lillah.

Sumber: Taman di Pelupuk Matanya, Penulis Intan Savitri, Pelangi Nurani

Cinta dan Waktu

Alkisah di sebuah pulau kecil tinggallah berbagai macam benda
abstrak, ada cinta, ada gembira, ada kesedihan, kekayaan, dan lain
sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu
ketika, badai besar datang dan menghempas pulau kecil itu. Air laut
tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau kecil itu. Semua
penghuni pulau cepat-2 berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat
kebingungan, sebab ia tak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu.
Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara
itu air makin naik dan membasahi kaki cinta.

Tak lama kemudian cinta melihat kekayaan sedang mengayuh
perahu. "Kekayaan, kekayaan, tolong aku !" teriak cinta. "Aduh, maaf
cinta", kata kekayaan "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku
tak dapat membawamu serta, karena nanti perahuku tenggelam. Lagipula
tak ada lagi tempat bagimu di perahu ini". Lalu kekayaan cepat-2
mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali karena ditinggalkan
begitu saja oleh kekayaan.

Tak berapa lama kemudian lewatlah kegembiraan dengan
perahunya. "Kegembiraan, tolong aku !" teriak cinta. Namun
kegembiraan terlalu senang karena berhasil menemukan perahu, sehingga
ia tidak mendengar teriakan cinta. Air makin tinggi membasahi cinta
sampai ke pinggang, dan cinta panik.

Bersamaan dengan itu lewatlah kecantikan. "Kecantikan, bawalah aku
bersamamu", kata cinta. "Wah cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak
bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini"
kata kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. Saat itu juga lewat
kesedihan. "Oh kesedihan, bawalah aku bersamamu", kata cinta. "Maaf
cinta, aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja ……." jawab
kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan
menenggelamkannya. Pada saat keadaan kritis itulah tiba-2 terdengar
suara "Cinta, mari cepat naik ke perahuku !". Cinta menoleh dan
melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-2 cinta naik ke perahu
itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat orang itu
menurunkan cinta, dan segera pergi lagi. Pada saat itulah cinta sadar
bahwa ia tidak tahu sama sekali siapa orang tua yang telah
menyelamatkannya. Cinta segera menanyakannya kepada penduduk di pulau
itu. "Oh orang tua tadi ? Dia adalah waktu", jawab para
penduduk. "Tapi mengapa ia menyelamatkan aku, bukankah dia tidak
mengenal aku, dan aku tidak mengenal dia. Bahkan teman-2ku yang
mengenal akupun tidak mau menyelamatkan aku", tanya si cinta dengan
keheranan. "Sebab", kata orang itu "HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA
NILAI SESUNGGUHNYA DARI SEBUAH CINTA …………….."

sumber : suara merdeka

Tuesday, December 23, 2003

Chatting dengan Tuhan

BUZZ …

TUHAN : Kamu memanggilKu ?

AKU : MemanggilMu ? Tidak.. Ini siapa ya ?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa ? Semut juga sibuk.

AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi
seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu
hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.

AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada sekedar lewat mimpi, misalnya.

AKU : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit ?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.

AKU : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa Senang ?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU : Jika Penderitaan itu pilihan,mengapa orang baik selalu Menderita ?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.

AKU : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman
memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu ? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah ?

TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha - leha.

AKU : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah ...

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.

AKU : Kadang - kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan ?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.

AKU : Di dalam saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi ?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh kamu berjalan, daripada masih berapa jauh kamu harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

AKU : Apa yang menarik dari manusia ?

TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku ?". Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku ?".

AKU : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini ?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini ?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa - doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU : Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.


Sumber : Unknown (tidak diketahui)

Posting awal

Blogger?? apa tu yah?? hehehe bikin deh nih halaman cuman buat iseng ajah. sebenarnya dah punya tapi yang in isinya mo laen

ZonePrinter.Com