Today is better

Friday, January 30, 2004

Pencuri

Suatu ketika, tinggallah sebuah keluarga kaya. Keluarga itu, terdiri dari orangtua, dan kedua anak laki-lakinya. Kekayaan mereka sangatlah berlimpah. Lumbung mereka, penuh dengan tumpukan padi dan gandum. Ladang mereka luas, lengkap dengan ratusan hewan ternak.
Namun, pada suatu malam, ada pencuri yang datang ke lumbung mereka. Sebagian besar padi yang baru di tuai, lenyap tak berbekas. Tak ada yang tahu siapa pencuri itu. Kejadian itu terus berulang, hingga beberapa malam berikutnya. Akan tetapi, tak ada yang mampu menangkap pencurinya.
Sang tuan rumah tentu berang dengan hal ini. "Pencuri terkutuk!!, akan kuikat dia kalau sampai kutangkap dengan tanganku sendiri." Begitu teriak sang tuan rumah. "Aku akan menangkap sendiri, biar rasakan pembalasanku."
Kedua anaknya, mulai ikut bicara. "Ayah, biarlah kami saja yang menangkap pencuri itu. Kami sudah cukup mampu melawannya. Kami sudah cukup besar, tentu, pencuri-pencuri itu akan takluk di tangan kami. "Ijinkan kami menangkapnya Ayah!"
Tak disangka, sang Ayah berpendapat lain. "Jangan. Kalian masih muda dan belum berpengalaman. Kalian masih belum mampu melawan mereka. Lihat tangan kalian, masih tak cukup kuat untuk menahan pukulan. Ilmu silat kalian masih sedikit. Kalian lebih baik tinggal saja di rumah. Biar aku saja yang menangkap mereka." Mendengar perintah itu, kedua anaknya hanya mampu terdiam.
Penjagaan memang diperketat, namun, tetap saja keluarga itu kecurian. Sang Ayah masih saja belum mampu menangkap pencurinya. Malah, kini hewan ternak yang mulai di ambil. Ia sangat putus asa dengan hal ini. Dengan berat hati, di datangilah Kepala Desa untuk minta petunjuk tentang masalah yang dialaminya. Diceritakannya semua kejadian pencurian itu.
Kepala Desa mendengarkan dengan cermat. Ia hanya berkata, "Mengapa tak biarkan kedua anakmu yang menjaga lumbung? Mengapa kau biarkan semua keinginan mereka tak kau penuhi? Ketahuilah, wahai orang yang sombong, sesungguhnya, engkau adalah "pencuri" harapan-harapan anakmu itu. Engkau tak lebih baik dari pencuri-pencuri hartamu. Sebab, engkau tak hanya mencuri harta, tapi juga mencuri impian-impian, dan semua kemampuan anak-anakmu. Biarkan mereka yang menjaganya, dan kau cukup sebagai pengawas."
Mendengar kata-kata itu, sang Ayah mulai sadar. Pada esok malam, diijinkanlah kedua anaknya untuk ikut menjaga lumbung. Dan tak berapa malam kemudian, ditangkaplah pencuri-pencuri itu, yang ternyata adalah penjaga lumbung mereka sendiri.
***
Teman, pernahkan Anda bertanya kepada anak kecil tentang cita-cita dan harapan mereka? Ya, bisa jadi kita akan mendapat beragam jawaban. Suatu ketika mereka akan menjadi pilot, dan ketika lain mereka memilih untuk menjadi dokter. Suatu saat mereka akan mengatakan ingin bisa terbang, dan saat lain berteriak ingin dapat berenang seperti ikan. Walaupun pada akhirnya kita tahu hanya ada satu jawaban kelak, namun, pantaskah jika kita melarang mereka semua untuk punya harapan dan impian?
Begitulah, seperti halnya dalam cerita diatas, ada banyak pencuri-pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita. Mereka, mencuri semua impian, dan merampas harapan-harapan yang kita lambungkan. Mereka, selalu menghadang setiap langkah kita untuk mencapai tujuan-tujuan hidup.
Bisa jadi, pencuri-pencuri itu bisa hadir dalam bentuk orangtua, teman, saudara, atau bahkan rekan kerja. Namun, yang sering terjadi adalah, kita sendirilah pencuri harapan dan impian itu. Kita sendirilah pencuri yang paling besar menghadang setiap langkah. Kita sering temukan dalam diri, perasaan takut, ragu, dan bimbang dalam melangkah.
Terlalu sering kita mendengarkan suara kecil yang mengatakan, "Saya tidak bisa, saya tidak mampu." Atau, sering kita berucap, "Sepertinya, saya tak akan mungkin mengatasinya." "jangan, jangan lakukan ini sekarang, lakukan ini nanti saja. Terus seperti itu. Kegagalan, sering kita jadikan peniadaan dalam melangkah.
Namun, teman, seringkali bisa keliru. Kegagalan, adalah sebuah cara Allah untuk menunjukkan kepada kita tentang arti kesungguhan. Kegagalan, adalah pertanda tentang sebuah usaha yang tak akan berakhir. Kegagalan, adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana meraih semua harapan yang terlewat.
Memang, tak ada kesuksesan yang diraih dalam semalam. Karena itu, yakinlah, dengan kesabaran kita akan dapat meraih semua harapan dan impian. Maka, yakinlah dengan semua impian kita. Jika kita mampu, dan nurani kita mengatakan setuju, jangan biarkan orang lain mencuri impian itu--terutama oleh diri kita sendiri.
Dan teman, jangan jadikan diri kita pencuri-pencuri impian orang lain. Yakinlah dengan itu semua, sebab Allah selalu akan bersama kita.

Tuesday, January 27, 2004

You Still Have Hope

If you can look at the sunset and smile, then you still have hope.
If you can find beauty in the colors of a small flower, then you still have hope.
If you can find pleasure in the movement of a butterfly,
then you still have hope.
If the smile of a child can still warm your heart,
then you still have hope.
If you can see the good in other people,
then you still have hope.
If the rain breaking on a rooftop can still lull you to sleep,
then you still have hope.
If the sight of a rainbow still makes you stop and stare in wonder,
then you still have hope.
If the soft fur of a favored pet still feels pleasant under your fingertips,
then you still have hope.

If you meet new people with a trace of excitement and optimism,
then you still have hope.
If you give people the benefit of a doubt,
then you still have hope.
If you still offer your hand in friendship to others that have touched your life,
then you still have hope.
If receiving an unexpected card or letter still brings a pleasant surprise,
then you still have hope.

If the suffering of others still fills you with pain and frustration,
then you still have hope.
If you refuse to let a friendship die, or accept that it must end,
then you still have hope.
If you look forward to a time or place of quiet and reflection,
then you still have hope.
If you still watch love stories or want the endings to be happy,
then you still have hope.

If you can look to the past and smile,
then you still have hope.
If, when faced with the bad, when told everything is futile,
you can still look
up and end the conversation with the phrase... "yeah...BUT.."
then you still have hope.

-Author Unknown
***
Teman, harapan adalah sesuatu yang menakjubkan. Jalin-jemalin yang hadir didalam harapan, selalu mengikat jiwa manusia, walau kadang ikatan itu tak tampak.
Harapan, akan selalu menguatkan tangan-tangan kita, saat yang lainnya melepaskannya. Harapan, akan selalu membuat kita tersenyum, saat semuanya menangis. Harapan, akan selalu membuat kepala kita tegak, dan menatap jauh ke depan, saat begitu banyak tantangan yang hadir. Harapan, adalah kekuatan yang diberikan Allah, bagi kita untuk terus mau berusaha.
Harapan, akan melukiskan senyuman di wajah kita, walaupun hati sedang gundah.
Harapan akan menunjukkan arah bagi kaki-kaki kita, walaupun mata kita tak melihat jejak-jejak itu. Harapan akan memberikan dorongan, walaupun jiwa kita sedang dalam kebingungan.
Harapan, adalah juga sesuatu yang indah. Harapan adalah sesuatu yang harus disyukuri, yang memberikan kesegaran bagi setiap jiwa yang kering. Dan teman, harapan, dapat ditemukan dimana saja. Di setiap hati kita. Di setiap jiwa kita. Sebab, harapan adalah dian, adalah nyala, yang akan memberikan cahaya, dalam tempat yang gelap tanpa warna.
Teman, jangan pernah kehilangan harapan.

Friday, January 23, 2004

Tembok

Suatu ketika, semua anggota tubuh dapat berbicara. Maka, tersebutlah sepotong tangan kanan yang sangat sombong. Ia merasa, bahwa hanya dialah yang paling berguna, yang paling sering dipakai. Ia merasa, tangan kanan lah yang paling berhak untuk menyandang semua kebaikan dan pujian.
Tangan kanan ini, seringkali mencemooh tangan kiri. Ia, kerap membanggakan diri, dan menyebut si tangan kiri sebagai tangan yang tak berguna. Tangan kanan sesumbar, "Lihatlah aku. Akulah yang paling baik, dan aku hanya dipergunakan untuk hal-hal baik.". Ia meneruskan kesombongannya, "Akulah yang melakukan semua hal berguna, makan, minum, menulis, dan menderma...ha..ha...ha"
"Tapi lihat dirimu, hei tangan kiri," ujarnya sambil mencibir, "Kamu hanya dipakai untuk hal-hal kotor. "Tak ada kebaikan yang pernah kamu lakukan, kamu tangan yang tak berguna!" Tangan kiri hanya termenung sedih. Ia berharap, bias melakukan kebaikan untuk tuannya. Tangan kanan terus sesumbar dengan kelebihannya, namun, hal itu membuat tubuh sang tuan kehilangan keseimbangan. Tanpa disengaja, ada buku tebal yang terjatuh akibat tangan kanan yang sibuk menggapai-gapai dan mengenai lemari. Buku itu terlempar dan mengenai kepala dan tangan kanannya. "Adduh...adduh... keduanya kesakitan." Sang tuan pun pingsan.
Tangan kiri, yang semula sedih, cepat tanggap. Ia lalu menggapai-gapai, meminta pertolongan. Lambaian tangan itu, menarik perhatian orang, dan membuat sang tuan cepat tertolong. Tangan kiri pun kini bahagia, sebab, ia tak hanya menolong si tangan kanan, tapi, ia juga menyelamatkan tuan dan seluruh anggota tubuh lainnya.
***
Teman, begitulah. Kadang, kita tak bisa meraup segalanya dalam satu tangan. Sering, kita tak mampu menangani semua hal hanya dengan satu genggaman. Maka, itulah mengapa Allah menciptakan kita dengan dua tangan. Kedua tangan itulah yang akan membuat manusia menjadi sempurna. Kedua tanganlah yang menjadikan manusia tampil sebagai sosok yang lengkap. Kedua tangan itulah yang memberikan hikmah bagi kita tentang kerjasama, kerukunan dan kebersamaan.

Thursday, January 22, 2004

Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
~Author Unknown

***
Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin

Tuesday, January 20, 2004

Api dan Asap

Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan. Dia terus berdoa pada Tuhan untuk menyelamatkan jiwanya.
Setiap saat, dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat. Sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya. Lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya ruman-rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.
Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, "Ya Tuhan, mengapa Kau lakukan ini padaku. Mengapa?... Mengapa?". Teriaknya melengking menyesali nasib.
Tiba-tiba...terdengar peluit yang ditiup. Tuittt.....tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini kembali terkejut, ia lalu bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini? Mereka menjawab, "Kami melihat simbol asapmu!!"

Author Unknown *)

Teman, sangat mudah memang bagi kita, untuk marah saat musibah itu tiba. Nestapa yang kita terima, tampak akan begitu berat, saat terjadi dan berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan terus mengeluh. Namun, teman, agaknya kita tak boleh kehilangan hati kita. Sebab, Allah selalu ada pada hati kita, walau dalam keadaan yang pali berat sekalipun.
Mungkin kita sering bertanya, kenapa harus kita? Kita sudah jatuh, kenapa musibah datang kepada kita. Seolah-olah dia begitu lekat dengan diri kita. Itu hanya pandangan kita, kita akan tahu setelah kita melewatinya. Tiada hal yang lebih baik pada saat-saat seperti itu melainkan dengan lapang dada.
Itu mungkin adalah sarana Allah untuk menolong kita, mengangkat kita dan menyelamatkan kita. Apa yang tidak mungkin bagi Allah? tidak ada. Everything can be. Kenapa tidak dengan kita? Allah bisa mendatangkan bantuan dengan jutaan cara bahkan dari cara yang mustahil sekalipun dan tidak kita sangka-sangka (Min haytsu laa yah tasibb )

Friday, January 16, 2004

Cangkir yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si nenek kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang engrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"
Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya
begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.
Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.
Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
***
Teman, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah.
"Teman, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk Anda. Bentukan -bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai.Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk Anda.

Thursday, January 15, 2004

God Knows...

When you are tired and discouraged from fruitless efforts...
God knows how hard you have tried.
When you've cried so long and your heart is in anguish...
God has counted your tears.
If you feel that your life is on hold and time has passed you by...
God is waiting with you.
When you're lonely and your friends are too busy even for a phone call...
God is by your side.
When you think you've tried everything and don't know where to turn...
God has a solution.
When nothing makes sense and you are confused or frustrated...
God has the answer
If suddenly your outlook is brighter and you find traces of hope...
God has whispered to you.
When things are going well and you have much to be thankful for...
God has blessed you.
When something joyful happens and you are filled with awe...
God has smiled upon you.
When you have a purpose to fulfill and a dream to follow...
God has opened your eyes and called you by name.
Remember that wherever you are or whatever you are facing...
GOD KNOWS
-Author Unknown

Tuesday, January 13, 2004

New Attitude

To those of you who have pushed me, thank you.
Without you I would have fallen.

To those of you who laughed at me, thank you.
Without you I wouldn't have cried.

To those of you who just couldn't love me, thank you.
Without you I wouldn't have known real love.

To those of you who hurt my feelings, thank you.
Without you I wouldn't have felt them.

To those of you who left me lonely, thank you.
Without you I wouldn't have discovered myself.

But it is to those of you who thought I couldn't do it;
It is you I thank the most,
Because without you I wouldn't have tried.

~Author Unknown

Sunday, January 11, 2004

Bibit Tanaman

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku." Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman." Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
***
Teman, memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak. Pilihlah koptimisan, dan pilih kepositifan.

Thursday, January 08, 2004

Sebuah nilai

Suatu ketika, ada seorang kakek yang sedang berada di sebuah taman kecil. Di dekatnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain pasir, membentuk lingkaran.
Ia lalu menghampiri mereka, dan berkata: "Siapa yang mau uang Rp. 10.000!!" Semua anak itu berhenti bermain dan serempak mengacungkan tangan. Ia lalu berkata, "Kakek akan memberikan uang, tapi, setelah kalian semua melihat ini dulu." Kakek itu lalu meremas-remas uang itu hingga lusuh. Di remasnya terus hingga beberapa saat. Ia lalu kembali bertanya "Siapa yang masih mau dengan uang ini? Anak-anak itu tetap bersemangat mengacungkan tangan. "Tapi,... kalau kakek injak bagaimana? ". Lalu, kakek itu malah menjatuhkan uang itu ke tanah dan menginjaknya dengan sepatu. Dipijak dan di tekannya keras-keras uang itu hingga kotor. Beberapa saat, Ia lalu mengambil kembali uang itu. Dan ia kembali bertanya: "Siapa yang masih mau uang ini?" Tetap saja. Anak-anak itu mengacungkan jari mereka. Bahkan hingga mengundang perhatian setiap orang. Kini hampir semua yang ada di taman itu mengacungkan tangan. :)
***
Teman, kita belajar sesuatu yang sangat berharga dari cerita itu. Apapun yang dilakukan oleh si Kakek, semua anak akan tetap menginginkan uang itu, sebab, tindakan itu tak akan mengurangi nilai dari uang yang dihadiahkan. Uang itu tetap berharga Rp. 10.000.
Siapa saja yang mempunyai nilai maka dia akan diperebutkan, biarpun lusuh, biarpun terkoyak, biarpun terinjak maka nilailah yang akan menentukan dimana dia akan berada.
Sebagai manusia kita sering terbuai dan tertipu dengan pakaian, dengan bagian luarnya. Kita terkadang lupa dengan nilai yang dimiliki. Kita sering melihat siapa yang berkata bukan apa yang dia katakan. Karena itulah butiran-butiran hikmah dari perkataan orang lain banyak yang hanya lalu saja. Padahal bukanlah pakaian yang dilihat, bukanlah kekayaan yang dilihat, dan bukan pula jabatan. Melainkan hati dan tingkah laku "Inna 'Illaha la yandzuru ila suwarikum wala ila amwalikum. Walakin yandzuru ila qulubikum wa a'alikum"
Selamat berkarya Sobat, selamat belajar, dan selamat berjuang untuk menghasilkan sebuah nilai. Hidup ini cuma sekali, persembahkanlah yang terbaik di detik ini, jam ini, hari ini, tahun ini dan di kehidupan ini.

ZonePrinter.Com